Tahapan Penting dalam Penerapan Manajemen Risiko

Tahapan Penting dalam Penerapan Manajemen Risiko –

Setiap pemilik perusahaan tentu tidak ingin bisnis yang dijalankan mengalami masalah. Masalah yang dihadapi bisa datang dari mana saja seperti keuangan (finansial), waktu, hingga kecelakaan kerja. Jika suatu proses bisnis bersifat statis hingga perusahaan hancur sudah dipastikan tujuan perusahaan tidak tercapai. Maka dari itu, perlu adanya manajemen risiko untuk mengatasi hal tersebut.

Apa itu manajemen risiko?
Manajemen risiko adalah upaya untuk meminimalisasi kerugian dan meningkatkan peluang di perusahaan dalam upaya mencegah kecelakaan kerja. Konsep manajemen risiko awalnya dikenal di bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada tahun 1980. Manajemen risiko juga termasuk upaya yang komprehensif, terencana, dan sistematis. Sebab, salah satu manfaat dari manajemen risiko adalah untuk melindungi pekerja dan bisnis dari kerugian maupun kecelakaan kerja.

  1. Penentuan Konteks

    Sebelum mengidentifikasi risiko, hal pertama dan utama kali yang harus dilakukan perusahaan adalah menetapkan Rencana Jangka Panjang (RJP), Rencana Kerja Anggaran (RKAP), dan Key Performance Indicator (KPI). Penetapan konteks akan memudahkan perusahaan mengidentifikasi dan melakukan tahapan-tahapan selanjutnya. Beberapa penetapan konteks bisa berupa:

    • Konteks lingkungan internal dan eksternal perusahaan
    • Menetapkan tujuan, strategi, ruang lingkup dan parameter dimana proses manajemen risiko harus dilaksanakan
    • Menentukan kriteria risiko seperti tingkat kemungkinan dan keparahan risiko.
  2. Identifikasi risiko

    Identifikasi risiko bertujuan untuk mengenali dan mengetahui segala bentuk sumber bahaya serta aktivitas yang berisiko pada proses kerja. Adapun beberapa hal yang dilakukan yakni:

    • Membuat daftar risiko lengkap dari kejadian yang berdampak pada bisnis perusahaan
    • Mencatat faktor-faktor yang memengaruhi risiko secara rinci
    • Membuat skenario proses kejadian berdasarkan informasi gambaran hasil identifikasi
  3. Penilaian Risiko

    Penilaian Risiko adalah tahapan untuk menentukan besarnya risiko dengan mempertimbangkan keparahan yang terjadi untuk nantinya dapat dikendalikan. Adapun sebagai tindak lanjut dari proses ini yakni mengevaluasi risiko. Salah satu bentuk nyatanya adalah apakah risiko dapat diterima atau tidak dengan level risiko sesuai dengan standar yang digunakan.
  4. Pengendalian Risiko

    Tahapan ini sebagai penentu keseluruhan manajemen risiko dimana upaya-upaya dapat dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya risiko. Beberapa cara mengendalikan yakni dengan:

    • Eliminasi: menghilangkan sumber bahaya
    • Substitusi: mengganti bahan atau alat kerja
    • Pengendalian engineering: rekayasa teknik pada alat, mesin, lingkungan, atau bangunan
    • Administratif: rotasi penempatan kerja maupun perawatan secara berkala
    • Alat Pelindung Diri (APD): menggunakan helm keselamatan, masker, sepatu keselamatan, pakaian pelindung, serta kacamata keselamatan
  5. Pemantauan dan Tinjauan Ulang
  6. Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui perubahan dan seberapa efektif sistem dilaksanakan. Pemantauan pengendalian risiko perlu dilakukan minimal setiap tiga bulan.
  7. Komunikasi dan Konsultasi

    Komunikasi adalah bagian terpenting dimana setiap informasi mengenai menajemen risiko harus diketahui oleh semua pihak. Adapun pihak tersebut diantaranya: manajemen, pekerja, pemasok, kontraktor, dan masyarakat di sekitar perusahaan. Adapun tujuan dari komunikasi agar semua pihak dapat berhati-hati dan tentunya terus mengutamakan keselamatan dalam bekerja. Terakhir adalah konsultasi. Yakin dan percaya lah bahwa setiap perusahaan memiliki risikonya masing-masing dan tentu dengan perlakuan yang tepat sasaran. Pastikan perusahaan Anda berkonsultasi dengan ahlinya.

Synergy Solusi (member of Proxsis) sangat mendukung setiap perusahaan untuk mengendalikan risiko agar bisnis tetap berjalan dengan lancar. Synergy Solusi pun siap membantu seluruh mitra tentu dengan menghadirkan konsultan yang ahli di bidangnya. Jangan ragu untuk berkonsultasi bersama kami, ya.

Tahapan Penting dalam Penerapan Manajemen Risiko

7 Zat Kimia yang Berbahaya bagi Manusia

7 Zat Kimia yang Berbahaya bagi Manusia –

Keberadaan bahan kimia dalam kehidupan sehari-hari tidak dapat dihindarkan. Penggunaannya sangat luas, untuk keperluan rumah tangga maupun industri. Bahan kimia memiliki fungsi dan manfaat yang baik jika paham dan tepat dalam menggunakannya. Namum, keberadaaannya dapat membahayakan jika dalam jumlah yang banyak dan tidak tepat.

Berikut adalah 7 yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan cukup sering dijumpai:

7 Zat Kimia yang Berbahaya bagi Manusia

6 Istilah Terkait COVID-19

6 Istilah Terkait COVID-19 –

Saat ini, dunia tengah diguncangkan oleh mewabahnya COVID-19. Bagaimana tidak, penyakit yang disebabkan oleh coronavirus jenis terbaru ini telah memakan ribuan korban jiwa. Sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus Corona, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk melakukan social distancing.

Istilah-Istilah yang Berkaitan dengan COVID-19

‘Social distancing’ hanyalah salah satu dari sekian banyak istilah terkait virus Corona yang bermunculan dalam pandemi COVID-19. Untuk lebih memahami istilah-istilah yang berhubungan dengan COVID-19 tersebut, simak ulasan berikut:

  1. Social distancing

    Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), arti istilah ‘social distancing’  atau ‘pembatasan sosial’ adalah menghindari tempat umum, menjauhi keramaian dan menjaga jarak optimal 2 meter dari orang lain. Dengan adanya jarak, penyebaran penyakit ini diharapkan dapat berkurang.
  2. Isolasi dan karantina

    Kedua istilah terkait virus Corona ini merujuk pada tindakan untuk mencegah penularan virus Corona dari orang yang sudah terpapar virus ini ke orang lain yang belum.

    Perbedaannya, isolasi memisahkan orang yang sudah sakit dengan orang yang tidak sakit untuk mencegah penyebaran virus Corona, sedangkan karantina memisahkan dan membatasi kegiatan orang yang sudah terpapar virus Corona namun belum menunjukkan gejala.

    Berbagai pakar menganjurkan untuk melakukan karantina di rumah atau isolasi mandiri  setidaknya selama 14 hari.
  3. Lockdown
    Istilah ‘lockdown’ 
    berarti karantina wilayah, yaitu pembatasan pergerakan penduduk dalam suatu wilayah, termasuk menutup akses masuk dan keluar wilayah. Penutupan jalur keluar masuk serta pembatasan pergerakan penduduk ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi dan penyebaran penyakit COVID-19.
  4. Flattening the curve

    ‘Flattening the curve’
      atau ‘pelandaian kurva’ merupakan istilah di bidang epidemiologi untuk upaya memperlambat penyebaran penyakit menular yang dalam hal ini adalah COVID-19, sehingga fasilitas kesehatan memiliki sumber daya yang memadai bagi para penderita. Pelandaian kurva ini dapat dilakukan dengan social distancing, karantina dan isolasi.

    Kurva menggambarkan prediksi jumlah orang yang terinfeksi virus Corona dalam rentang waktu tertentu. Jumlah penderita yang meningkat drastis dalam periode yang sangat singkat, misalnya hanya dalam waktu beberapa hari, digambarkan sebagai kurva tinggi yang sempit.
  5. Pasien dalam pengawasan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP)

    PDP dan ODP merupakan definisi yang digunakan untuk mengelompokkan individu berdasarkan:

    • Gejala demam dan/atau gangguan pernapasan
    • Riwayat perjalanan ke daerah pandemi infeksi virus Corona atau tinggal di daerah tersebut selama 14 hari terakhir sebelum gejala timbul
    • Riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi atau diduga terinfeksi COVID-19 dalam 14 hari terakhir sebelum gejala timbul
  6. Herd immunity

    Secara harfiah, istilah ‘herd immunity’  berarti kekebalan kelompok. Herd immunity terhadap suatu penyakit bisa dicapai dengan pemberian vaksin secara meluas atau bila sudah terbentuk kekebalan alami pada sebagian besar orang dalam suatu kelompok setelah mereka terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut.

    Di tengah pandemi COVID-19, sebagian ahli percaya bahwa penularan virus Corona akan menurun atau bahkan berhenti sama sekali bila sudah ada banyak orang yang sembuh dan menjadi kebal terhadap infeksi ini.

Jadi, itulah berbagai istilah terkait virus Corona dan COVID-19. Synergy Solusi sebagai perusahaan yang fokus pada kesehatan dan keselamatan kerja sangat mendukung segala kegiatan bekerja Anda agar tetap aman. Salah satunya, melalui pelatihan dan konsultasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (k3).  Informasi lebih lanjut dapat menghubungi https://www.synergysolusi.com/

Sumber :
https://www.alodokter.com//

6 Istilah Terkait COVID-19

Stress Kerja Termasuk dalam K3 Lingkungan Kerja? WOW!

Stress Kerja Termasuk dalam K3 Lingkungan Kerja? WOW! –

Stress kerja dapat menjadi salah satu penyebab menurunnya produktivitas pekerja. Oleh karena itu, perusahaan harus dapat mengendalikan faktor psikologi untuk menjaga kesehatan psikis setiap pekerja. Bekerja berarti berhadapan dengan berbagai tantangan, tekanan, dan beban kerja. Wajar rasanya, para pekerja mengalami stres namun reaksi terhadap stres tersebut menjadi yang paling penting. Terlebih lagi banyaknya potensi bahaya seperti ketidakjelasan/ketaksaan peran, konflik peran, beban kerja berlebih secara kualitatif, beban kerja berlebih secara kuantitatif, pengembangan karir; dan/atau tanggung jawab terhadap orang lain. 

Salah satu mengetahui tingkat stress di perusahaan adalah dengan menyelenggarakan survei stress kerja. Berikut ini merupakan salah satu contoh kuesioner stress kerja yang dapat diaplikasikan di perusahaan.

STRESS KERJA
stress kerja

Setelah mengetahui tingkat stress pekerja di perusahaan, penting bagi pengurus atau penanggung jawab perusahaan untuk melakukan pengendalian melalui manajemen stress. Pengendalian melalui manajemen stress dapat dilakukan dengan cara:

  1. melakukan pemilihan, penempatan dan pendidikan pelatihan bagi Tenaga Kerja;
  2. mengadakan program kebugaran bagi Tenaga Kerja;
  3. mengadakan program konseling;
  4. mengadakan komunikasi organisasional secara memadai;
  5. memberikan kebebasan bagi Tenaga Kerja untuk  memberikan masukan dalam proses pengambilan keputusan
  6. mengubah struktur organisasi, fungsi dan/atau dengan merancang kembali pekerjaan yang ada;
  7. menggunakan sistem pemberian imbalan tertentu
  8. pengendalian lainnya sesuai dengan kebutuhan.

Tentunya berbagai cara dalam melakukan manajemen stress dapat dilakukan, namun penentuan cara yang digunakan, bergantung pada tingkat stress para pekerja. Setiap perusahaan pastinya memiliki program masing-masing, contohnya untuk menurunkan tingkat stress pejekerja akibat kebosanan di offshore, perusahaan menyediakan fasilitas theater hingga gym untuk menurunkan tingkat stressnya.

Synergy Solusi sebagai bagian dari Proxsis Group membantu perusahaan dalam mempersiapkan program-program pengendalian faktor-faktor K3 Lingkungan Kerja, mulai dari  faktor biologi, kimia, fisika, ergonomi hingga psikologi. Jadi, jika anda memiliki permasalahan dalam pengendalian K3 Lingkungan Kerja, jangan ragu untuk menghubungi Synergy Solusi melalui tautan berikut ini.

Stress Kerja Termasuk dalam K3 Lingkungan Kerja? WOW!

Uji Nyali K3 dengan Uji Riksa!

Uji Nyali K3 dengan Uji Riksa! –

Menjaga keselamatan kesehatan kerja dalam operasi industri, pasti harus melibatkan seluruh pihak yang terlibat, baik pekerja, kontraktor, lingkungan kerja, tempat kerja dan termasuk peralatan yang digunakan. Salah satu cara untuk memastikan bahwa peralatan kerja yang digunakan selama perusahaan beroperasi adalah dengan melakukan uji riksa terhadap setiap peralatan tersebut.

Uji riksa adalah suatu metode untuk menjaga keselamatan karyawan dalam melakukan operasi dan pengendalian unit. Pelaksanaan uji riksa ini dilakukan secara berkala pada semua peralatan yang ada. Kegiatan uji riksa pada alat kerja dilakukan secara berkala sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku untuk masing-masing alat.

Kegiatan uji riksa merupakan salah satu hal yang tidak asing dan melekat pada bidang Keselamatan Kesehatan Kerja (K3). Terlebih banyak perusahaan atau tempat kerja yang menggunakan berbagai peralatan yang harus dilakukan pemeriksanaan yang salah satunya dengan melakukan uji riksa ini.

Manfaat uji riksa peralatan bagi perusahaan dan pekerja di antaranya:

  1. Mencegah, mengurangi bahkan menghilangkan risiko kecelakaan kerja (zero accident).
  2. Mencegah terjadinya cacat/kematian pada tenaga kerja.
  3. Mencegah kerusakan tempat dan peralatan kerja.
  4. Mencegah pencemaran lingkungan dan masyarakat disekitar tempat kerja.
  5. Menciptakan dan memelihara derajat kesehatan kerja.

Tujuan dari uji riksa alat di antaranya:

  1. Memenuhi persyaratan peraturan perundangan yang berlaku.
  2. Menguji kelayakan fungsi dan operasi peralatan.
  3. Memeriksa dan menguji kekuatan knstruksi (Integritas Structure).
  4. Membuktikan kestabilan dalam operasi.
  5. Untuk mendapatkan Sertifikat/Ijin Pemakaian atau Re-Sertifikasi (berkala).

Jenis riksa dan uji berdasarkan peraturan perundang-undangan:

  1. Pemeriksaan dan pengujian dalam pembuatan.
  2. Pemeriksaan dan pengujian pertama dalam pemakaian peralatan instalasi baru dan atau setelah selesai pemasangan instalasi baru dan atau setelah selesai pemasangan.
  3. Pemeriksaan dan pengujian berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Berikut ini merupakan ruang lingkup pelaksanaan uji riksa:

Ruang Lingkup Uji Riksa

Perlu diingat bahwa yang dapat melakukan uji riksa ini adalah pihak yang telah ditunjuk oleh pemerintah sebagai Perusahaan Jasa K3 uji Riksa. Jadi, jangan lupa untuk memeriksa legalitas badan uji riksa yang kamu pilih ya! Jika diperlukan untuk sharing dan diskusi terkait detail uji riksa rekan-rekan dapat menghubungi www.synergysolusi.com.

Uji Nyali K3 dengan Uji Riksa!

2 Pekerja Apartemen Rungkut Surabaya Jatuh dari Lantai 11

2 Pekerja Apartemen Rungkut Surabaya Jatuh dari Lantai 11 –

SURABAYA – Dua pekerja bangunan di menara Apartemen Rungkut Surabaya tewas setelah lift yang ditumpanginya jatuh dari lantai 11. Diduga, lift tersebut jatuh setelah kawat slingnya putus.
Kedua korban diketahui bernama Nur Furqon (31), warga Pati, Jawa Tengah, tewas dengan luka di bagian kepala, dan Nur Kamid (40), warga Grobogan, Jawa Tengah, tewas dengan luka mengenaskan di kepala, tangan, dan kaki.
Kejadian bermula dari kedua korban yang naik ke lantai atas untuk membawa bahan bangunan dengan menggunakan lift. Namun saat tiba di lantai 11, tiba-tiba kawat sling lift putus, sehingga terjun bebas.

Kedua tubuh pekerja bangunan yang berada di dalam lift ini pun juga ikut terjatuh menghantam bumi. Salah seorang sempat dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya tewas saat dalam perjalanan.
Aparat kepolisian langsung melakukan penyelidikan atas tewasnya kedua pekerja bangunan ini. Penyelidikan polisi mengarah pada standart keamanan proyek pembangunan apartemen menara tersebut.
Sementara itu, kedua jenazah korban langsung dibawa ke kamar mayat RSU Dokter Sutomo Surabaya untuk diautopsi. Kemudian, kedua korban dibawa ke kampung halamannya untuk dimakamkan.
Sumber : daerah.sindonews.com
Sumber Foto : images.cnnindonesia.com

2 Pekerja Apartemen Rungkut Surabaya Jatuh dari Lantai 11

Bahaya Bekerja Lembur

Bahaya Bekerja Lembur –

Pekerja yang bekerja lembur cenderung berisiko kecelakaan diakibatkan kelelahan bekerja. Hal ini perlu menjadi perhatian bersama, mengingat jam lembur sering menjadi faktor ketidakwaspadaan yang mengakibatkan cedera dan kecelakaan pada pekerja.

Menurut UU, Waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 jam sehari untuk 6 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau 8 jam sehari untuk 5 hari kerja dan 40 jam dalam seminggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi yang ditetapkan Pemerintah (Pasal 1 ayat 1 Peraturan Menteri no.102/MEN/VI/2004).

Bahaya Kelelahan pada Pekerja Lembur

Gejala-gejala kelelahan, baik mental maupun fisik, bervariasi dan tergantung pada orang. Manajer dan supervisor harus belajar untuk mengenali tanda-tanda dan gejala efek kesehatan yang terkait dengan shift lembur. Beberapa contohnya termasuk:

  • keletihan
  • kantuk
  • lekas marah / temperamen naik
  • kurang kewaspadaan, kurang konsentrasi dan memori
  • kurang motivasi
  • peningkatan kerentanan terhadap penyakit
  • depresi
  • sakit kepala
  • pusing
  • kehilangan nafsu makan dan masalah perencanaan

Untuk mengatasi bahaya ini, berikut adalah beberapa saran dari praktisi K3 dan OSHA:

  1. Ketika ada pilihan, manajer harus membatasi penggunaan jam lembur dan meningkatkan jumlah kerja hari karyawan. Kerja lebih dari 8 jam umumnya akan menghasilkan produktivitas berkurang dan menurunnya Periode istirahat tambahan dan makanan harus diberikan ketika ada penambahan waktu kerja / lembur. Tugas-tugas yang membutuhkan tenaga kerja fisik yang berat atau konsentrasi yang intens harus dilakukan pada awal pergeseran jika mungkin.
  2. Pekerja yang diminta untuk bekerja lembur harus rajin dipantau untuk tanda-tanda kelelahan. Setiap karyawan menunjukkan tanda-tanda tersebut harus dievaluasi dan mungkin diarahkan untuk meninggalkan daerah aktif dan digantikan oleh karyawan yang lain.
  3. Bila memungkinkan, pastikan bahwa waktu lembur dapat dihindari dan pergeseran perubahan shift memberikan waktu karyawan untuk istirahat dan pemulihan yang memadai. Lembur tidak boleh dipertahankan selama lebih dari beberapa hari, terutama jika pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga fisik atau mental yang berat.
  4. Rencanakan untuk memiliki jumlah yang memadai dari personil yang tersedia untuk memungkinkan pekerja untuk mengambil istirahat, makan, dan tidur.
  5. Rencanakan waktu istirahat secara teratur pada seluruh shift kerja. Selain istirahat formal seperti makan siang atau makan malam, perlu juga ada kelonggaran waktu untuk penggunaan istirahat mikro untuk mengubah posisi dan bergerak.

Source: https://www.indonesiasafetycenter.org

Bahaya Bekerja Lembur

Free Download Infografik 6 Tahapan CSMS

Free Download Infografik 6 Tahapan CSMS –

Contractor Safety Management System (CSMS) sangat penting bagi perusahaan untuk membantu pihak HSE dan user dalam mempersiapkan proses seleksi awal sebelum para kontraktor, vendor dan supplier melakukan pekerjaan di lingkungan mereka dimana para pihak ketiga harus mematuhi dan mengikuti peraturan sistmen manajemen yang dianut oleh perusahaan. CSMS merupakan sistem komprehensif dalam pengelolaan kontraktor sejak tahap perencanaan sampai pelaksanaan pekerjaan dengan menghubungkan sistem manajemen K3 perusahaan dengan sistem manajemen K3 kontraktor.

Untuk download Infografik silakan klik gambar JPG berikut.

Untuk informasi berkenaan dengan layanan CSMS kami silakan klik di sini.

Free Download Infografik 6 Tahapan CSMS

Pemetaan Aspek K3, Lingkungan dan Keamanan di Seluruh Wilayah PLN NTB

Pemetaan Aspek K3, Lingkungan dan Keamanan di Seluruh Wilayah PLN NTB –

Memasuki dunia industrialisasi yang semakin modern akan diikuti oleh penerapan teknologi tinggi, penggunaan bahan dan peralatan makin kompleks dan rumit, yang akan mengakibatkan suatu kemungkinan bahaya yang besar, berupa kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja, yang diakibatkan oleh kesalahan dalam penggunaan peralatan, pemahaman dan kemampuan serta ketrampilan tenaga kerja yang kurang memadai. Pada sisi lain, adanya ancaman (threat) dan kerentanan (vulnerability) dalam setiap aspek operasi dapat berpengaruh besar terhadap kelangsungan operasi perusahaan.

PT Sinergi Solusi Indonesia bekerja sama dengan Indonesia Environment Center membantu melakukan pemetaan dan mengevaluasi penerapan sistem manajemen K3, keamanan dan lingkungan di PLN yang berada di seluruh area NTB. Proyek ini dimulai pada tanggal 14 Maret 2017 (pada saat Kick Off) dan diperkirakanan selesai di bulan Mei 2017. Kick Off pendampingan ini dilaksanakan di kantor PLN rayon Mataram dan dihadiri oleh perwakilan PLN dari masing-masing area yang ada di NTB.

Proyek Pemetaan dan Evaluasi Sistem Manajemen K3, Keamanan dan Lingkungan di PLN seluruh Area NTB ini mengacu kepada peraturan PP No. 50 Tahun 2012PERKAPOLRI No. 24 Tahun 2007 dan ISO 14001:2015.

Hasil keluaran dari proyek pemetaan ini berupa hasil penilaian terhadap kesesuaian standar dan rekomendasi dari tim konsultan untuk tindakan perbaikan yang dapat dilakukan sehingga PLN seluruh Area NTB bisa memenuhi persyaratan sistem manajemen sebagaimana yang dimaksud di PP No. 50 Tahun 2012, PERKAPOLRI No. 24 Tahun 2007 dan ISO 14001:2015.

Tim proyek pemetaan aspek K3, Lingkungan dan Keamanan ini diantaranya:

  1. Tri Utami Pramudyastuti, SKM selaku Project Manager dan Asesor
  2. Isma Husni Rakhmawati, AMKL, SKM selaku Asesor
  3. Tira Argianti Suswita, ST. K3 selaku Asesor
  4. Amriana, ST selaku Asesor

Seperti apa perjalanan project ini ke depan? Kita akan bahas melalui artikel selanjutnya.

Pemetaan Aspek K3, Lingkungan dan Keamanan di Seluruh Wilayah PLN NTB

Apa itu Mitigasi Bencana?

Apa itu Mitigasi Bencana? –

Mitigasi  bencana  adalah  serangkaian  upaya  untuk  mengurangi  risiko  bencana,  baik  melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi  bencana  juga dapat diartikan sebagai  suatu  aktivitas  yang  berperan  sebagai  tindakan pengurangan dampak bencana, atau usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi korban ketika bencana terjadi, baik korban jiwa maupun harta benda.

Langkah Melakukan Kajian Risiko Bencana

Dalam melakukan tindakan mitigasi bencana, langkah awal yang kita harus lakukan ialah melakukan kajian risiko bencana terhadap daerah tersebut. Dalam menghitung risiko bencana  sebuah  daerah  kita  harus  mengetahui  Bahaya  (hazard), Kerentanan (vulnerability) dan kapasitas (capacity) suatu wilayah yang berdasarkan pada karakteristik kondisi fisik dan wilayahnya.

Dampak Bencana yang tidak dimitigasi

Bahaya  (hazard)  adalah  suatu  kejadian  yang  mempunyai  potensi  untuk  menyebabkan  terjadinya kecelakaan, cedera, hilangnya nyawa atau kehilangan harta benda. Bahaya ini bisa menimbulkan bencana maupun  tidak. Bahaya  dianggap  sebuah  bencana  (disaster)  apabila  telah  menimbulkan  korban  dan kerugian. Kerentanan (vulnerability) adalah rangkaian kondisi yang menentukan apakah bahaya (baik bahaya alam maupun bahaya buatan) yang terjadi akan dapat menimbulkan bencana (disaster) atau tidak. Rangkaian kondisi, umumnya dapat berupa kondisi fisik, sosial dan sikap yang mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan, mitigasi, persiapan dan tindak-tanggap terhadap dampak bahaya.

Jenis-jenis kerentanan:

  • Kerentanan Fisik: Bangunan, Infrastruktur, Konstruksi yang lemah.
  • Kerentanan Sosial: Kemiskinan, Lingkungan, Konflik, tingkat pertumbuhan yang tinggi, anak-anak dan wanita, lansia.
  • Kerentanan Mental: Ketidaktahuan, tidak menyadari, kurangnya percaya diri, dan lainnya.

Kapasitas (capacity) adalah kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap situasi tertentu dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia, keuangan dan lainnya). Kapasitas ini bisa merupakan kearifan lokal masyarakat yang diceritakan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Resiko bencana (Risk) adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan  kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan  atau  kehilangan  harta, gangguan  kegiatan  masyaraka,  akibat  kombinasi  dari  bahaya, kerentanan, dan kapasitas dari daerah yang bersangkutan.

Cara Menghitung Risiko Bencana

Menghitung Risiko bencana di suatu wilayah berdasarkan pada penilaian bahaya, kerentanan dan kapasitas di wilayah tersebut. Menghitung resiko bencana menggunakan persamaan sebagai berikut:

Risk (R) = H x V/ C
Keterangan
R: Resiko Bencana
H: Bahaya
V: Kerentanan
C: Kapasitas

Setelah melakukan menghitung resiko bencana, yang harus kita lakukan ialah melakukan tindakan untuk mengurangi resiko bencana tersebut. Tindakan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi kerentanan dan menambah kapasitas sebuah daerah. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk menguarangi resiko bencana antara lain:

  • Relokasi  penduduk  dari  daerah  rawan  bencana,  misal  memindahkan  penduduk  yang  berada  dipinggir tebing yang mudah longsor
  • Pelatihan-pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi penduduk di sebuah daerah.
  • Pengkondisian rumah atau sarana umum yang tanggap bencana.
  • Bangunannya relatif lebih kuat jika dilanda gempa.
  • Penciptaan dan penyebaran kearifan lokal tentang kebencanaan,dan lain-lain.

Ditulis oleh konsultan sistem manajemen bencana Synergy Solusi.

Apa itu Mitigasi Bencana?